SEPERTI KELUARGA: Endri Haryati (tengah) pendiri lembaga pendidikan Angkasa Avia bersama empat siswanya. Endri mendidik mereka menjadi awak pesawat yang disiplin dan tanggap. (Dite Surendra/Jawa Pos)

Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa membantu seseorang mewujudkan mimpi mereka. Karena mimpi-mimpi itulah mereka bisa hidup. Itulah yang dilakukan Endri Haryati lewat beasiswa tanpa batas untuk mereka yang ingin menjadi pramugari.

BRIANIKA IRAWATI, Surabaya

BETAPA bahagia hati Eta Dwi Susanti, 21. Dia dinyatakan lulus ujian akhir. Lisensi resmi telah dikantongi. Impiannya menjadi pramugari terwujud. Semua itu didapatkannya tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.

Kini dia bekerja sebagai pramugari di perusahaan penerbangan ternama tanah air. Eta adalah salah seorang siswa Angkasa Avia yang berhasil mewujudkan mimpi menjadi pramugari.

Profesi itu ada di benak Eta sejak lama. Namun, setelah dia lulus dari SMKN Kalibaru, Banyuwangi, harapannya hampir pupus. Biaya sekolah pramugari tergolong tinggi. Terlebih, dia berasal dari keluarga tak mampu. Dua orang tuanya telah meninggal dunia. Dia diadopsi seorang penjual sayur di salah satu pasar di Banyuwangi.

Suatu ketika dia mendapatkan info mengenai beasiswa yang ditawarkan sekolah Angkasa Avia. ”Saya coba saja. Meski awalnya nggak yakin,” ceritanya. Secara fisik dan kemampuan, Eta memenuhi kualifikasi yang ditentukan. Tinggi badannya di atas 165 sentimeter, berat badan proporsional, dan lulus tes tulis. Kemampuan berbahasa Inggris dia juga masuk kualifikasi. Berbekal itu, dia mengajukan permohonan beasiswa. ”Senangnya bukan main, saya diterima,” ungkapnya. Dia lantas menjalani pendidikan selama tujuh bulan sampai lulus.

Angkasa Avia adalah lembaga pendidikan penerbangan yang didirikan Endri Haryati, 48, tujuh tahun lalu. Endri memberikan beasiswa tanpa batas kepada siapa saja yang berasal dari keluarga tak mampu, asal memenuhi kriteria. Juga memiliki semangat kuat untuk menimba ilmu di lembaga yang didirikannya.

Dalam setahun, ada dua gelombang penerimaan. Kalau calon siswa tak mampu dalam pembiayaan, Endri memberikan beasiswa penuh. Artinya, siswa dapat menjalani pendidikan tanpa mengeluarkan biaya. ”Kalau yang bisa bayar, ya, bayar. Kalau nggak mampu, saya pasti bantu,” tegas Endri.

Bukan hanya pramugari, Endri juga membuka kelas untuk calon airline staff dan kargo. Dua di antara tujuh bulan masa pendidikan menjadi masa praktik di lapangan. Tidak ada perbedaan antara siswa yang membayar maupun yang mendapatkan beasiswa. Mereka mendapatkan fasilitas sama. Sistem sekolah diciptakan santai. Namun, tetap disiplin mengikuti standar peraturan perusahaan maskapai penerbangan di Indonesia. Kalau ada yang melanggar, siswa mendapatkan hukuman yang telah ditentukan. Mulai teguran hingga pengaruh terhadap nilai. ”Ini membentuk karakter calon awak penerbangan yang disiplin dan tanggap,” kata Endri.

Bangunan sekolah yang berlokasi di Jalan Bypass Juanda tersebut terbagi atas tiga bagian. Lantai 1 merupakan laboratorium komputer dan lobi. Lalu, lantai 2 dan 3 terdiri atas beberapa ruang kelas.

Sebagian besar gurunya berasal dari beberapa perusahaan maskapai penerbangan. Misalnya, Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, dan Sriwijaya Air. Dengan begitu, kemampuan siswa dapat terbentuk sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.

Endri adalah mantan pramugari. Dia menggeluti profesi tersebut selama seperempat abad. Tentu, banyak sekali pengalaman dia ketika bekerja sebagai cabin crew. Jatuh bangun, seperti judul lagu dangdut yang dipopulerkan Meggy Z. Berpindah dari satu maskapai penerbangan satu ke yang lainnya.

Perjalanannya menjadi pramugari juga berkelok. Endri tidak berasal dari keluarga yang sangat mampu kala itu. Tapi, dia tahu, tekad dan keinginannya menjadi pramugari sangatlah besar. Endri meyakinkan keluarga dan orang tua bahwa dirinya mampu. ”Penghasilan pramugari juga besar, bisa keliling ke mana saja,” ucapnya. Profesi itu bisa dijadikan pegangan hidup.

Dia pun tak menyerah pada mimpinya tersebut. Meski, kondisinya terbatas. Atas dasar pengalaman pribadi, setelah tak lagi menjadi pramugari, dia mendirikan lembaga pendidikan. Sebab, pasti banyak juga orang-orang yang sepertinya. Yakni, memiliki mimpi tapi harus menghadapi kondisi keuangan yang minim serta kesempatan yang sedikit.

Semangat itulah yang selalu ditularkan kepada siswanya. Tidak ada yang tak mungkin kalau mau berusaha keras. Termasuk menjadi pramugari. Tes penjaringan memang sulit. Namun, kalau mau berusaha, keinginan itu akan terwujud. ”Saya selalu menyelipkan motivasi ini kepada anak-anak,” ujarnya.

Setelah pensiun dari pramugari, istri Slamet Budiawan tersebut sempat menjadi dosen di dua perguruan tinggi swasta di Surabaya. Dia berkarir sebagai dosen selama enam tahun. Sampai akhirnya, hatinya bergejolak. Dia ingin kembali ke passion-nya. Yakni, bekerja di bidang penerbangan. Menjadi pramugari lagi sudah tak memungkinkan. Akhirnya Endri memutuskan mendirikan sekolah yang mencetak lulusan di bidang penerbangan.

Tentunya, enggak gampang mendirikan sekolah. Mula-mula Angkasa Avia didirikan, tidak ada seorang pun yang mendaftar. ”Ini sekolah apa sih. Banyak yang nggak percaya,” kata ibunda Yunita Hernawati Nur Azizah dan Reynaldi Rexon Yuliawan itu. Menyerah? Tentu tidak. Dia terus memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa Angkasa Avia merupakan lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perempuan kelahiran 7 November 1968 tersebut memproses lisensi resmi pendirian lembaga pendidikan. Lisensi itu penting. Kalau lembaga sudah memegang lisensi resmi dari pemerintah, kualitas lulusannya patut dipertimbangkan. Peluang mendapatkan pekerjaan juga makin besar.

Sudah memperoleh izin resmi, Endri jemput bola. Dia sendiri yang berkeliling ke sekolah-sekolah untuk promosi Angkasa Avia. ”Ya, tentunya ada yang masih nggak percaya,” cerita alumnus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur tersebut. Hal tersebut dilakukan di Surabaya maupun luar Surabaya.

Tahun pertama berjalan, kerja keras Endri sedikit membuahkan hasil. Angkatan pertama Angkasa Avia berjumlah delapan orang. ”Meski cuma dikit, semuanya jadi orang sukses,” katanya bangga. Lulusan pertamanya mendapat respons positif dari perusahaan maskapai penerbangan.

Dari sana, siswa yang berminat makin banyak. Tahun kedua, jumlah siswa meningkat drastis, yaitu 180 orang. ”Saya bersyukur banget,” jelasnya. Hingga saat ini, jumlah siswanya mencapai 831 orang.

Karena jumlah siswa meningkat terus, Angkasa Avia pindah ke gedung yang lebih luas. Sarana dan prasananya juga terus dikembangkan. Jadi, dia berharap prestasi Angkasa Avia terus meningkat.

Bagi Endri, siswanya sudah seperti anak. Dia memberikan perhatian besar kepada setiap siswa. ”Kadang mereka curhat masalah pribadi. Namanya anak remaja, ya. Ceritanya lucu-lucu,” kenangnya. Meski kini tak lagi jadi pramugari, kenangannya terhadap profesi itu masih berlanjut. Lewat cerita-cerita siswanya tersebut tentunya. Mantan pramugari yang ”melahirkan” pramugari-pramugari andal. Melihat anak-anak didiknya berhasil dan sukses, Endri pun sangat bangga. (*/c10/jan)

sumber :
https://www.jawapos.com/features/10/03/2017/endri-haryati-bagikan-beasiswa-untuk-wujudkan-profesi-pramugari

Share via